Apa Itu Interaction to Next Paint dan Bagaimana Cara Mengoptimalkannya?
Apa Itu Interaction to Next Paint?
Interaction to Next Paint atau INP adalah metrik yang mengukur responsivitas halaman terhadap interaksi pengguna.
Contohnya:
User Klik Tombol
↓
Browser Memproses
↓
Tampilan Berubah
↓
Respons TerlihatSemakin cepat proses tersebut, semakin baik pengalaman pengguna.
Target INP:
≤ 200 ms
= BaikMengapa INP Penting?
Website tidak cukup hanya cepat saat pertama kali dibuka.
Website juga harus cepat ketika digunakan.
Contohnya:
Website Cepat Dibuka
↓
User Klik Menu
↓
Tidak Ada Respons
↓
User MenungguKondisi tersebut dapat membuat website terasa lambat meskipun halaman awal sudah tampil dengan cepat.
Contoh Interaksi yang Diukur
INP dapat berkaitan dengan berbagai interaksi seperti:
Klik tombol.
Membuka menu.
Mengirim form.
Membuka modal.
Input pencarian.
Memilih dropdown.
Tap pada perangkat mobile.
INP melihat respons halaman selama pengguna berinteraksi dengan halaman.
Cara Kerja INP
Secara sederhana:
Interaction
↓
Event Handler
↓
JavaScript Processing
↓
Browser Rendering
↓
Next PaintJika JavaScript membutuhkan waktu terlalu lama, respons terhadap pengguna ikut tertunda.
Apa yang Menyebabkan INP Buruk?
Salah satu penyebab utama adalah JavaScript yang terlalu berat.
Contohnya:
User Klik
↓
JavaScript Berat
↓
Main Thread Sibuk
↓
UI Menunggu
↓
Respons LambatPenyebab lainnya dapat berupa:
Event handler terlalu kompleks.
DOM terlalu besar.
Third-party script.
Proses sinkron yang berat.
Rendering terlalu banyak.
Request atau proses data yang tidak efisien.
Hubungan INP dengan JavaScript
Browser menggunakan main thread untuk menjalankan banyak pekerjaan JavaScript dan rendering.
Jika main thread sibuk:
JavaScript
████████████████████
↓
User Klik
↓
MenungguInteraksi berikutnya dapat tertunda.
Karena itu, salah satu fokus utama optimasi INP adalah mengurangi pekerjaan JavaScript yang tidak diperlukan.
1. Kurangi JavaScript
Periksa JavaScript yang digunakan website.
Hapus atau kurangi script yang tidak diperlukan.
Contohnya:
20 JavaScript Files
↓
Audit
↓
Hanya gunakan yang dibutuhkanSemakin banyak kode yang harus diproses, semakin besar potensi beban pada browser.
2. Pecah Long Task
Long Task adalah pekerjaan JavaScript yang membutuhkan waktu lama dan membuat main thread sibuk.
Contohnya:
Task
████████████████████████Lebih baik pekerjaan besar dipecah:
Task 1
████
Task 2
████
Task 3
████Dengan begitu, browser memiliki kesempatan untuk menangani interaksi pengguna di antara pekerjaan tersebut.
3. Optimalkan Event Handler
Contohnya ketika tombol diklik:
button.addEventListener('click', function () {
prosesDataYangSangatBerat();
});Jika proses tersebut terlalu berat, respons tombol dapat terasa lambat.
Pisahkan pekerjaan yang tidak harus dilakukan langsung setelah klik.
4. Hindari DOM yang Terlalu Kompleks
DOM yang sangat besar dapat meningkatkan pekerjaan browser.
Contohnya:
Halaman
↓
10.000 Element
↓
Update DOM
↓
Rendering BeratGunakan struktur HTML yang lebih sederhana jika memungkinkan.
5. Kurangi Re-render
Pada framework seperti React atau Vue, perubahan state dapat menyebabkan rendering ulang.
Pastikan hanya komponen yang diperlukan yang diperbarui.
Konsep sederhananya:
User Klik
↓
State Berubah
↓
Komponen yang diperlukan
↓
RenderHindari menyebabkan seluruh halaman melakukan pekerjaan yang tidak diperlukan.
6. Gunakan Debouncing
Untuk input pencarian, jangan jalankan proses setiap kali pengguna menekan tombol keyboard.
Contohnya:
User mengetik:
L
La
Lar
Lara
LaravelTanpa debounce:
5 RequestDengan debounce:
User selesai mengetik
↓
1 RequestIni dapat mengurangi beban browser dan server.
7. Optimalkan Third-Party Script
Website sering menggunakan script eksternal seperti:
Analytics
Chat Widget
Ads
Tracking
Social MediaJika terlalu banyak, script tersebut dapat membebani browser.
Periksa apakah semuanya benar-benar diperlukan.
8. Gunakan Code Splitting
Tidak semua JavaScript harus dimuat sekaligus.
Contohnya:
Dashboard
↓
Load Dashboard CodeKetika user membuka halaman lain:
User Management
↓
Load User Management CodePendekatan ini dapat mengurangi JavaScript yang harus diproses di awal.
9. Gunakan Lazy Loading
Resource yang belum dibutuhkan dapat dimuat ketika diperlukan.
Contohnya:
Halaman Dibuka
↓
Konten Utama
↓
User Scroll
↓
Konten BerikutnyaIni membantu mengurangi beban awal halaman.
10. Optimalkan API
INP tidak hanya berkaitan dengan frontend.
Jika interaksi menjalankan proses yang membutuhkan data dari server, backend juga perlu diperhatikan.
Contohnya:
User Klik
↓
JavaScript
↓
API
↓
Database
↓
Response
↓
UI UpdateQuery database yang lambat dapat membuat pengalaman interaksi terasa lambat.
11. Gunakan Caching
Data yang sering digunakan dapat disimpan dalam cache.
Contohnya:
Request
↓
Cache?
├── Ya → Response Cepat
└── Tidak → DatabaseCaching dapat membantu mengurangi pekerjaan backend.
12. Jangan Menjalankan Proses Berat di Event Utama
Misalnya ketika user menekan tombol:
Klik
↓
Export 100.000 Data
↓
Browser SibukLebih baik proses berat dilakukan melalui background process atau server.
Contohnya:
Klik Export
↓
Request
↓
Background Job
↓
File Selesai
↓
User DownloadPendekatan ini membuat UI tetap responsif.
INP pada Laravel
Pada aplikasi Laravel, optimasi INP dapat melibatkan frontend dan backend.
Contohnya:
User
↓
JavaScript
↓
Laravel API
↓
Database
↓
Response
↓
UIPeriksa:
JavaScript.
API response.
Database query.
Cache.
Server response time.
Payload JSON.
INP pada React dan Vue
Untuk React atau Vue, perhatikan rendering komponen.
Contohnya:
User Interaction
↓
State Update
↓
Component Render
↓
Browser PaintJika terlalu banyak komponen ikut melakukan rendering, respons dapat menjadi lebih lambat.
Gunakan optimasi sesuai framework seperti:
Memoization
Code Splitting
Lazy Loading
Virtualizationsesuai kebutuhan.
Gunakan Virtualization untuk Data Besar
Misalnya tabel memiliki:
100.000 DataJangan langsung merender seluruh data ke DOM.
Gunakan pagination atau virtualization.
Contohnya:
100.000 Data
↓
Render 50 Data
↓
User Scroll
↓
Load Data BerikutnyaIni dapat mengurangi beban rendering.
Cara Mengecek INP
Beberapa tools yang dapat digunakan:
Google PageSpeed Insights.
Google Search Console.
Chrome DevTools.
Lighthouse.
Chrome User Experience Report.
Gunakan kombinasi data lab dan data pengguna nyata untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.
Target INP
Google menggunakan kategori berikut:
≤ 200 ms
Baik
> 200 ms – 500 ms
Perlu Ditingkatkan
> 500 ms
BurukTarget yang ideal adalah mempertahankan INP di bawah 200 ms.
Contoh Masalah INP
Misalnya halaman dashboard memiliki tabel besar.
User Klik Filter
↓
10.000 Data Diproses
↓
JavaScript Berat
↓
UI Freeze
↓
Respons 800 msINP dapat menjadi buruk.
Solusinya:
Klik Filter
↓
Kirim Parameter
↓
Server Filter Data
↓
Return Data
↓
Render Data yang DiperlukanINP dan User Experience
Performa teknis akhirnya harus berdampak pada pengalaman pengguna.
Contohnya:
INP Baik
↓
Klik
↓
Respons Cepat
↓
User NyamanSedangkan:
INP Buruk
↓
Klik
↓
Menunggu
↓
User FrustrasiKarena itu, INP bukan hanya angka untuk SEO, tetapi juga indikator kualitas interaksi website.
Checklist Optimasi INP
Gunakan checklist berikut:
✓ Kurangi JavaScript
✓ Pecah Long Task
✓ Optimalkan Event Handler
✓ Kurangi DOM
✓ Kurangi Re-render
✓ Gunakan Debounce
✓ Optimalkan Third-Party Script
✓ Gunakan Code Splitting
✓ Gunakan Lazy Loading
✓ Optimalkan API
✓ Optimalkan Database
✓ Gunakan Cache
✓ Gunakan Pagination
✓ Gunakan VirtualizationINP Bersama Ovla Media
Ovla Media dapat membantu melakukan optimasi performa website dan aplikasi, seperti:
Core Web Vitals audit.
INP optimization.
JavaScript optimization.
Laravel optimization.
React optimization.
Vue optimization.
API optimization.
Database optimization.
Performance monitoring.
PageSpeed optimization.
Technical SEO.
Custom web application.
Optimasi dilakukan berdasarkan sumber masalah sehingga perbaikan dapat difokuskan pada bagian yang benar-benar memengaruhi performa.
Kesimpulan
Interaction to Next Paint atau INP mengukur seberapa responsif website ketika pengguna berinteraksi dengan halaman.
Konsep sederhananya:
User Interaction
↓
Processing
↓
Rendering
↓
Next PaintTarget yang baik:
INP ≤ 200 msUntuk meningkatkannya, fokus pada:
JavaScript
+
Long Task
+
DOM
+
Rendering
+
API
+
DatabaseWebsite yang cepat bukan hanya website yang cepat dibuka, tetapi juga cepat merespons ketika digunakan.
Dengan mengoptimalkan INP, bisnis dapat memberikan pengalaman website yang lebih responsif, nyaman, dan mendukung performa digital secara keseluruhan.
Artikel Terkait
Apa Itu Database Index dan Mengapa Penting untuk Performa Aplikasi?
Database Index adalah struktur khusus yang membantu database menemukan data dengan lebih cepat tanpa harus membaca seluruh isi tabel. Index sangat penting untuk aplikasi dengan jumlah data besar, terutama ketika query sering menggunakan kolom tertentu untuk pencarian, filtering, sorting, atau relationship. Namun, terlalu banyak index juga dapat meningkatkan penggunaan storage dan memperlambat proses INSERT, UPDATE, dan DELETE.
Native App vs Web App: Mana yang Lebih Cocok untuk Bisnis?
Native App dan Web App memiliki kelebihan masing-masing. Native App cocok untuk aplikasi yang membutuhkan akses fitur perangkat secara mendalam dan performa tinggi, sedangkan Web App lebih mudah diakses melalui browser dan lebih sederhana dalam distribusi serta maintenance. Pemilihan teknologi sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, fitur aplikasi, budget, dan strategi bisnis.
WebSocket vs REST API: Kapan Harus Menggunakan Keduanya?
WebSocket dan REST API sama-sama digunakan untuk komunikasi antara aplikasi dan server, tetapi memiliki cara kerja yang berbeda. REST API cocok untuk request-response seperti mengambil data atau menyimpan transaksi, sedangkan WebSocket cocok untuk komunikasi realtime ketika server perlu mengirim pembaruan langsung ke pengguna. Dalam banyak aplikasi modern, keduanya justru digunakan secara bersamaan.