Apa Itu Progressive Web App? Kelebihan dan Kekurangannya untuk Bisnis
Apa Itu Progressive Web App?
Progressive Web App atau PWA adalah aplikasi yang dibangun menggunakan teknologi web, tetapi dirancang agar memberikan pengalaman seperti aplikasi yang dipasang langsung pada perangkat.
Seperti website, PWA dapat digunakan pada berbagai perangkat melalui satu basis kode. Pada perangkat dan browser yang mendukung, PWA juga dapat dipasang, dijalankan melalui ikon aplikasi, bekerja dalam kondisi jaringan terbatas, serta terintegrasi dengan beberapa kemampuan sistem operasi.
Contoh penggunaan PWA untuk bisnis:
Aplikasi kasir.
Sistem inventory.
Toko online.
Portal pelanggan.
Sistem pemesanan.
Aplikasi absensi.
Dashboard monitoring.
Sistem layanan lapangan.
Aplikasi klinik.
Aplikasi internal perusahaan.
Bagaimana Cara Kerja PWA?
PWA tetap menggunakan teknologi website seperti HTML, CSS, JavaScript, API, dan server backend.
Perbedaannya terletak pada beberapa komponen tambahan.
Web App Manifest
Web App Manifest adalah file berformat JSON yang berisi informasi mengenai aplikasi, seperti nama, ikon, warna tema, halaman awal, dan mode tampilan.
Manifest membantu browser menampilkan website sebagai aplikasi yang dapat dipasang pada perangkat.
Service Worker
Service worker adalah script yang berjalan terpisah dari halaman utama dan dapat menjadi perantara antara aplikasi, penyimpanan lokal, dan server.
Komponen ini dapat digunakan untuk:
Menyimpan aset dalam cache.
Mempercepat pemuatan halaman.
Menampilkan halaman saat koneksi tidak stabil.
Mengatur permintaan jaringan.
Mendukung proses tertentu di latar belakang.
Menangani notifikasi pada lingkungan yang mendukung.
Service worker tidak berarti seluruh aplikasi otomatis dapat digunakan tanpa internet. Developer tetap perlu menentukan data dan fitur mana yang disimpan atau tersedia secara offline.
HTTPS
PWA yang ingin memenuhi persyaratan pemasangan perlu disajikan melalui koneksi HTTPS. Pengecualian biasanya diberikan untuk lingkungan pengembangan lokal seperti localhost.
Perbedaan PWA, Website, dan Aplikasi Native
| Aspek | Website Biasa | PWA | Aplikasi Native |
|---|---|---|---|
| Dibuka melalui browser | Ya | Ya | Tidak selalu |
| Dapat dipasang | Umumnya tidak | Ya, pada browser pendukung | Ya |
| Satu basis kode | Ya | Ya | Umumnya berbeda per platform |
| Dukungan offline | Terbatas | Dapat dikembangkan | Umumnya lebih lengkap |
| Akses fitur perangkat | Terbatas | Bergantung browser | Lebih luas |
| Distribusi app store | Tidak | Dapat dilakukan dengan cara tertentu | Umumnya melalui app store |
| Biaya pengembangan | Relatif rendah | Menengah | Relatif lebih tinggi |
PWA berada di antara website biasa dan aplikasi native. Teknologi ini mempertahankan kemudahan akses website sekaligus menambahkan pengalaman pemasangan dan integrasi perangkat.
Kelebihan PWA untuk Bisnis
1. Tidak Harus Mengembangkan Aplikasi Terpisah
Satu aplikasi web dapat digunakan pada desktop, tablet, dan ponsel.
Bisnis tidak selalu perlu membuat aplikasi Android, iOS, dan website secara terpisah. Pendekatan satu basis kode dapat menyederhanakan pengembangan dan pemeliharaan.
2. Mudah Diakses
Pengguna dapat membuka PWA melalui tautan seperti website biasa.
Mereka tidak harus memasang aplikasi sebelum melihat produk, mendaftar, atau menggunakan layanan. Setelah merasa membutuhkan, pengguna dapat memasangnya pada perangkat apabila browser mendukung pemasangan.
3. Dapat Dipasang pada Perangkat
PWA dapat memiliki ikon pada home screen, taskbar, atau daftar aplikasi. Ketika dibuka, aplikasi dapat tampil dalam jendela tersendiri tanpa antarmuka browser penuh, tergantung konfigurasi dan platform.
4. Pembaruan Lebih Mudah
Pembaruan aplikasi dilakukan melalui server website.
Pengguna biasanya tidak perlu mengunduh seluruh paket aplikasi secara manual setiap kali terdapat perubahan. Namun, developer tetap harus mengatur strategi pembaruan cache dan service worker agar pengguna menerima versi terbaru dengan benar.
5. Dapat Mendukung Kondisi Jaringan Terbatas
Dengan caching dan penyimpanan lokal, bagian tertentu dari aplikasi dapat tetap dibuka ketika koneksi lambat atau terputus.
Contohnya:
Menampilkan halaman yang pernah dibuka.
Menyimpan daftar produk.
Membuka tiket atau dokumen tertentu.
Menampung input untuk dikirim setelah koneksi kembali tersedia.
Kemampuan offline harus dirancang sesuai kebutuhan aplikasi dan tidak muncul secara otomatis hanya karena website disebut PWA.
6. Pengalaman Lebih Menyerupai Aplikasi
PWA dapat menggunakan tampilan layar penuh atau standalone, ikon aplikasi, splash screen, shortcut, notifikasi, dan integrasi tertentu dengan sistem operasi.
Ketersediaan setiap kemampuan tetap bergantung pada browser dan perangkat yang digunakan.
7. Cocok untuk Digitalisasi Bisnis
PWA dapat menjadi pilihan untuk perusahaan yang ingin menyediakan aplikasi dengan proses distribusi sederhana.
Contohnya:
Tim penjualan membuka katalog melalui ponsel.
Petugas gudang mencatat barang melalui tablet.
Pelanggan memeriksa status pesanan.
Cabang mengakses aplikasi kasir melalui browser.
Teknisi lapangan mengisi laporan pekerjaan.
Kekurangan PWA untuk Bisnis
1. Dukungan Fitur Tidak Selalu Sama
Kemampuan PWA berbeda pada setiap browser, sistem operasi, dan perangkat.
Sebuah fitur mungkin tersedia pada browser berbasis Chromium, tetapi belum tersedia atau memiliki perilaku berbeda pada browser lain. Karena itu, kompatibilitas setiap Web API perlu diperiksa sebelum digunakan pada production.
2. Akses Perangkat Tidak Selengkap Aplikasi Native
PWA telah memiliki banyak kemampuan, tetapi aplikasi native tetap dapat menjadi pilihan lebih tepat untuk kebutuhan yang sangat bergantung pada perangkat.
Contohnya:
Integrasi hardware khusus.
Pemrosesan latar belakang yang kompleks.
Fitur Bluetooth tertentu.
Sensor perangkat khusus.
Integrasi mendalam dengan sistem operasi.
Performa grafis yang sangat berat.
Keputusan harus dibuat berdasarkan fitur yang benar-benar dibutuhkan, bukan hanya berdasarkan biaya pengembangan.
3. Fitur Offline Membutuhkan Perencanaan
Tidak semua data dapat langsung digunakan tanpa internet.
Developer harus menentukan:
Aset yang disimpan.
Data yang tersedia offline.
Masa berlaku cache.
Proses sinkronisasi.
Penanganan konflik data.
Informasi yang ditampilkan ketika jaringan terputus.
Kesalahan strategi cache dapat menyebabkan pengguna melihat data lama atau tidak menerima pembaruan aplikasi.
4. Tidak Otomatis Muncul di App Store
PWA dapat digunakan langsung dari browser dan pada kondisi tertentu dapat didistribusikan melalui katalog atau app store. Namun, publikasi tersebut tetap membutuhkan proses tambahan dan tidak selalu sama dengan distribusi aplikasi native.
5. Pengguna Belum Selalu Memahami Cara Memasang PWA
Sebagian pengguna lebih terbiasa mengunduh aplikasi melalui Google Play atau App Store.
Bisnis mungkin perlu menyediakan tombol, petunjuk, atau ajakan pemasangan yang jelas agar pengguna mengetahui bahwa aplikasi dapat ditambahkan ke perangkat.
6. Tetap Membutuhkan Backend yang Baik
PWA bukan pengganti server, database, API, atau sistem keamanan.
Aplikasi tetap memerlukan:
Backend yang stabil.
Database yang aman.
Autentikasi.
Role dan permission.
Backup.
Monitoring.
HTTPS.
Perlindungan API.
PWA hanya mengatur cara aplikasi web memberikan pengalaman kepada pengguna.
Kapan Bisnis Sebaiknya Menggunakan PWA?
PWA cocok dipertimbangkan ketika bisnis:
Membutuhkan aplikasi yang mudah diakses.
Memiliki pengguna desktop dan mobile.
Ingin menggunakan satu basis kode.
Tidak memerlukan terlalu banyak fitur perangkat khusus.
Membutuhkan proses pembaruan yang cepat.
Memiliki anggaran pengembangan terbatas.
Ingin meningkatkan website menjadi lebih menyerupai aplikasi.
Membutuhkan sebagian fitur offline.
Mengembangkan aplikasi internal.
Ingin menguji pasar sebelum membuat aplikasi native.
Kapan Aplikasi Native Lebih Tepat?
Aplikasi native dapat menjadi pilihan lebih tepat ketika:
Integrasi perangkat sangat kompleks.
Aplikasi membutuhkan performa maksimal.
Proses latar belakang sangat penting.
Produk bergantung pada ekosistem app store.
Fitur harus konsisten pada sistem operasi tertentu.
Pengalaman aplikasi harus menggunakan kemampuan platform secara mendalam.
Bisnis juga dapat menggunakan strategi kombinasi, yaitu PWA untuk akses umum dan aplikasi native untuk kebutuhan khusus.
Contoh Penerapan PWA
Sistem Point of Sales
Kasir membuka aplikasi melalui browser atau ikon di perangkat. Data produk tertentu dapat disimpan agar tampilan lebih cepat.
Sistem Inventory
Petugas gudang menggunakan tablet untuk mencatat stok, transfer barang, dan penyesuaian persediaan.
Toko Online
Pelanggan membuka katalog melalui browser, memasang aplikasi, menerima notifikasi, dan mengakses kembali produk dengan lebih mudah.
Aplikasi Klinik
Petugas dapat mengakses pendaftaran, antrean, rekam layanan, dan jadwal melalui perangkat yang berbeda.
Portal Pelanggan
Pelanggan dapat melihat invoice, status pesanan, riwayat transaksi, dan informasi layanan.
Hal yang Perlu Dipersiapkan
Sebelum mengembangkan PWA, tentukan:
Target pengguna.
Perangkat yang digunakan.
Browser yang harus didukung.
Fitur offline.
Data yang boleh disimpan pada perangkat.
Kebutuhan notifikasi.
Integrasi hardware.
Sistem autentikasi.
Strategi cache dan pembaruan.
Kebutuhan distribusi melalui app store.
Lakukan pengujian pada beberapa browser dan perangkat, bukan hanya pada satu ponsel developer.
Pengembangan Progressive Web App Bersama Ovla Media
Ovla Media dapat membantu bisnis mengembangkan PWA untuk kebutuhan:
Point of Sales.
Inventory dan gudang.
Sistem multi-cabang.
Aplikasi klinik.
Portal pelanggan.
Sistem pemesanan.
Dashboard monitoring.
Aplikasi koperasi.
Sistem internal perusahaan.
Aplikasi bisnis custom.
Pengembangan dapat mencakup desain responsif, API, autentikasi, role dan permission, mode offline, notifikasi, integrasi sistem, serta dashboard administrasi.
Kesimpulan
Progressive Web App adalah aplikasi berbasis web yang dirancang agar memberikan pengalaman menyerupai aplikasi native.
Kelebihan utamanya meliputi:
Satu basis kode.
Mudah diakses.
Dapat dipasang.
Pembaruan lebih sederhana.
Dapat mendukung kondisi offline.
Cocok untuk berbagai perangkat.
Kekurangannya meliputi:
Dukungan fitur berbeda antarbrowser.
Akses perangkat tidak selalu selengkap aplikasi native.
Offline membutuhkan perencanaan.
Publikasi app store membutuhkan proses tambahan.
Strategi cache dan pembaruan lebih kompleks.
PWA dapat menjadi solusi efektif bagi bisnis yang membutuhkan aplikasi ringan, mudah didistribusikan, dan dapat digunakan melalui berbagai perangkat. Namun, keputusan akhir harus tetap disesuaikan dengan fitur, pengguna, keamanan, dan kebutuhan operasional.
Artikel Terkait
Headless CMS vs Traditional CMS: Mana yang Lebih Cocok untuk Website?
Traditional CMS menggabungkan pengelolaan konten dan tampilan website dalam satu sistem, sedangkan Headless CMS memisahkan keduanya dan mengirimkan konten melalui API. Traditional CMS lebih praktis untuk website sederhana, sementara Headless CMS lebih fleksibel untuk website, aplikasi mobile, dan berbagai saluran digital.
Single Page Application vs Multi Page Application: Apa Perbedaannya?
Single Page Application atau SPA memperbarui isi halaman menggunakan JavaScript tanpa memuat ulang seluruh dokumen. Sementara itu, Multi Page Application atau MPA memuat halaman baru dari server setiap kali pengguna berpindah menu. Keduanya memiliki kelebihan masing-masing dan perlu dipilih berdasarkan fungsi, SEO, anggaran, serta kebutuhan pengguna.
Mengapa Bisnis Anda Membutuhkan Website Custom Dibanding Template?
Website custom memberikan fleksibilitas, identitas merek, keamanan, dan kemampuan pengembangan yang lebih baik dibanding website berbasis template. Artikel ini membahas perbedaan keduanya, kelebihan website custom, kekurangan template, serta alasan mengapa bisnis yang ingin tumbuh dalam jangka panjang sebaiknya menggunakan website yang dibangun sesuai kebutuhan.